Panggilan Kristen dan Kemiskinan

 

Ringkasan Khotbah GKT Bethany Jakarta, 9 Agustus 2015

Ev. Hendro Lim

Kisah Para Rasul 2:41-47; Kisah Para Rasul 4:32-35

Kisah ini terjadi persis setelah Pentakosta, kita melihat dengan jelas kehidupan jemaat mula-mula. Lukas mencatat bahwa semua orang yang telah percaya ini tetap bersatu. Kisah Para Rasul 4, juga berbicara tentang kumpulan orang percaya sebagai kumpulan yang sehati dan sejiwa tidak hanya berkumpul tetapi, segala sesuatu mereka adalah kepunyaan bersama, kita mungkin segera merasa terganggu. Karena  masalah uang adalah masalah sensitive dan  sebagai orang Timur, kita sangat segan membicarakan soal uang, apalagi di gereja. Tetapi, catatan Lukas tentang sikap jemaat mula-mula tentang “milik kepunyaan mereka” adalah sesuatu yang patut kita pertimbangkan dengan matang. Dalam pemahaman demikianlah, bagian ini menjadi penting. Mengapa? Lukas berbicara tentang uang secara positif! Dan, itu terjadi ketika mereka berbagi di dalam jemaat dan keluar jemaat. Alasan kedua kita perlu menyikapi dengan serius: Ini baru saja Pentakosta, banyak sekali hal yang bisa dicatat mengenai kehidupan jemaat. Mengapa yang dicatat persis setelah tentang kesatuannya adalah tentang uang mereka? Persis setelah perayaan kebangkitan Paskah dan kebangunan gereja dalam Pentakosta, bukankah rasanya terlalu vulgar dan duniawi berbicara soal hal-hal yang fana seperti uang, jual beli harta benda, dan sejenisnya?2 Ketika saya membaca Kis 2:41-47 dan Kis 4:32-35, saya menemukan pola yang sangat menarik. Kebangkitan Kristus,pengajaran Firman, doa, dan persekutuan jemaat memungkin semangat memberi secara tulus dan murah hati. Sebaliknya, kemurahan hati jemaat menunjang kesaksian Injil mereka. Di dalam jalinan kesaksian Injil dan pelayanan kasih yang terintegrasi demikianlah, maka: – Internally,tidak ada yang kekurangan – Externally, mereka disukai semua orang, dan Tuhan menambahkan jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan

Ketika hari ini kita menyikap masalah kemiskinan atau kekayaan, mungkin kita perlu berpikir apakah kehidupan gereja kita, internally dan externally sudah benar. Di dalam gereja, apakah ibadah, pengajaran, persekutuan seimbang dan dengan hidup yang berbagi  yang tulus? Di luar gereja, apakah kesaksian Injil kita sejalan dengan kebaikan, dan ketulusan kita? Seharusnya, kehidupan iman kita dan hidup yang berbagi menjadi bagian yang terintegrasi di dalam seluruh kehidupan kita, dan terwujud di dalam kehidupan setiap orang di sekitar kita, termasuk di dalam kehidupan kita sebagai warga Negara.

-=-=-=-=-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s